Sebanyak 22 keluarga di Desa Kafa, Bireuen, masih bertahan di hunian darurat berbahan terpal meski pasokan logistik telah habis. Hingga Selasa (22/4/2026), warga belum menerima jatah hidup (jadup), bantuan isi rumah, maupun dana pemulihan ekonomi yang dijanjikan pemerintah. Terkait kendala administrasi, Kepala Desa Kafa, Evendi, menjelaskan, “Yang sudah diterima warga itu Dana Tunggu Hunian (DTH) saja. Itu pun 12 kepala keluarga dari 22 kepala keluarga belum menerima DTH, karena Nomor Induk Kependudukannya (NIK) ada masalah.” Kondisi ini kian mendesak karena warga sangat bergantung pada bantuan pusat untuk menyambung hidup dan mempersiapkan hari raya di tengah puing rumah mereka yang hancur. Evendi berharap BNPB dan Kemensos segera bertindak, seraya menambahkan, “Apalagi bentar lagi Idul Fitri, sangat banyak dana yang dibutuhkan untuk baju baru dan lain sebagainya. Seluruh rumah mereka hancur, solusi satu-satunya bertahan di hunian darurat itu.” Keterlambatan penyaluran bantuan ini menjadi beban berat bagi para penyintas yang kini hanya bisa pasrah di pengungsian. Diperlukan percepatan sinkronisasi data NIK agar seluruh korban banjir segera mendapatkan haknya, mengingat hunian darurat tersebut adalah satu-satunya tempat berlindung yang mereka miliki saat ini.
Aceh

Rumah Hancur Akibat Banjir dan Jadup Belum Cair, Warga Kafa Tagih Janji BNPB-Kemensos

Admin SA

Sebanyak 22 keluarga di Desa Kafa, Bireuen, masih bertahan di hunian darurat berbahan terpal meski pasokan logistik telah habis. Hingga Selasa (22/4/2026), warga belum menerima jatah hidup (jadup), bantuan isi rumah, maupun dana pemulihan ekonomi yang dijanjikan pemerintah. Terkait kendala administrasi, Kepala Desa Kafa, Evendi, menjelaskan, “Yang sudah diterima warga itu Dana Tunggu Hunian (DTH) saja. Itu pun 12 kepala keluarga dari 22 kepala keluarga belum menerima DTH, karena Nomor Induk Kependudukannya (NIK) ada masalah.”

Kondisi ini kian mendesak karena warga sangat bergantung pada bantuan pusat untuk menyambung hidup dan mempersiapkan hari raya di tengah puing rumah mereka yang hancur. Evendi berharap BNPB dan Kemensos segera bertindak, seraya menambahkan, “Apalagi bentar lagi Idul Fitri, sangat banyak dana yang dibutuhkan untuk baju baru dan lain sebagainya. Seluruh rumah mereka hancur, solusi satu-satunya bertahan di hunian darurat itu.”

Keterlambatan penyaluran bantuan ini menjadi beban berat bagi para penyintas yang kini hanya bisa pasrah di pengungsian. Diperlukan percepatan sinkronisasi data NIK agar seluruh korban banjir segera mendapatkan haknya, mengingat hunian darurat tersebut adalah satu-satunya tempat berlindung yang mereka miliki saat ini.