Menteri Bahlil Lahadalia mengungkapkan dua kapal kargo minyak milik PT Pertamina (Persero) masih berada di kawasan Selat Hormuz akibat memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Kedua kapal tersebut saat ini bersandar sambil menunggu kondisi yang lebih aman di tengah ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Pemerintah pun terus melakukan komunikasi dan negosiasi untuk mencari solusi terbaik.
Sambil menunggu kapal keluar dari kawasan tersebut, pemerintah menyiapkan alternatif pasokan minyak untuk menjaga ketersediaan energi nasional. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mencari sumber impor baru dari Amerika Serikat guna menutup potensi kekurangan pasokan akibat terganggunya jalur distribusi melalui Selat Hormuz.
Berdasarkan data Kementerian ESDM dan Pertamina, sekitar 19% impor minyak Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah yang biasanya melewati Selat Hormuz. Meski jalur tersebut kini terganggu, Bahlil memastikan pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario agar pasokan BBM dan LPG tetap aman bagi masyarakat. Namun, ia mengakui kondisi geopolitik dapat berdampak pada potensi kenaikan harga dan beban subsidi energi.
Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan perusahaan telah menyiapkan sistem distribusi alternatif, baik melalui jalur reguler maupun skema darurat. Pertamina juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi di tengah situasi global yang tidak menentu.