Ketua Banggar DPR RI, Said Abdullah, mengusulkan penggunaan teknologi sidik jari atau retina mata untuk pembelian LPG 3 kg agar distribusi lebih tepat sasaran. Ia menilai skema ini lebih efektif daripada sekadar mengandalkan data sentral pemerintah guna memastikan hanya masyarakat yang berhak yang menerima subsidi. “Caranya bukan sekadar semata-mata pemerintah punya data sentral, tapi juga lakukanlah berulang kali saya bolak-balik (usul) dengan sidik jari atau retina mata bagi orang yang berhak,” tegasnya.
Said secara terang-terangan menolak wacana pengurangan subsidi BBM yang dianggap membebani APBN, dan lebih memilih perbaikan sistem pada gas melon. Menurut hitungannya, jika tepat sasaran, jumlah penerima LPG 3 kg hanya mencapai 5,4 juta orang, jauh di bawah pagu saat ini yang sebesar 8,6 juta. “Kalau subsidi BBM dikurangi, kami nggak setuju. Yang diperlukan justru adalah subsidi LPG 3 kg itu harus tepat sasaran, targeted,” ujar Said menjelaskan posisinya.
Ia juga mengkritik pihak yang mencoba mengusik subsidi untuk rakyat kecil di tengah fluktuasi harga minyak dunia, sementara harga nonsubsidi belum disesuaikan sepenuhnya ke harga keekonomian. Said berharap kebijakan pemerintah lebih berpihak pada masyarakat miskin daripada memangkas bantuan pokok. “Kenapa yang untuk orang miskin yang diotak-atik? Jangan dong. Kalau mau diotak-atik yang sudah dijual di pasar yang nggak harga keekonomian, itu lebih make sense,” pungkasnya.