Kepala Pos Komando Wilayah (Kaposkowil) Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Safrizal ZA, memberikan atensi serius terhadap kenaikan harga dan kelangkaan semen di Aceh.
Dia mengatakan, kebutuhan semen di Aceh mengalami peningkatan signifikan seiring jalannya tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) pascabencana.
Kelangkaan semen bisa menghambat program rehab-rekon jika tak segera diatasi. Untuk itu, Safrizal telah berkoordinasi dengan PT Solusi Bangun Andalas (SBA) untuk membahas solusi masalah tersebut.
“Saya sudah bertemu dengan PT SBA, mereka sudah top produksi, tidak bisa serta-merta menaikkan produksi. Sementara di Aceh, kita sedang membutuhkan material semen untuk rehab-rekon,” ujar dia.
“Kekurangan semen nantinya akan dipenuhi oleh PT SBI [PT Solusi Bangun Indonesia], holding dari PT SBA,” tambahnya.
Safrizal menambahkan, opsi pemenuhan semen dari luar daerah akan dilaporkan kepada Kasatgas PRR agar dibahas bersama Danantara.
Terkait kenaikan harga semen di Aceh, Safrizal memastikan hal itu bukan karena inisiatif pabrik. “Pabrik semen tidak menaikkan harga. Tapi ada mekanisme pasar karena kelangkaan,” jelasnya.
Meski demikian, dia mengingatkan agar kelangkaan tidak dimanfaatkan untuk melakukan penimbunan dan mengambil keuntungan berlebih. Guna mencegah praktik itu, Satgas PRR telah berkoordinasi dengan Polda Aceh.
“Nanti akan ada pengecekan oleh Polda Aceh,” kata dia.
“Ini banyak agenda nasional, [saya minta] agar semua pihak berpartisipasi supaya distribusi [semen] bisa berjalan baik, [saya harap] tidak ada pihak-pihak yang mencari keuntungan sendiri, melupakan rehab-rekon dan kebutuhan masyarakat,” lanjutnya.
Menurutnya, kenaikan harga semen di Aceh perlu segera dikendalikan, terutama jika mendekati 100%. Saat ini rerata harga semen di Aceh sekitar Rp80.000 per sak.
Kenaikan harga sampai dua kali lipat berisiko mengganggu perencanaan biaya proyek rehab-rekon sekaligus menghambat pekerjaan di lapangan.
“Kalau naiknya sampai 100 persen pasti menghambat. Tentu kontraktor tidak bisa bekerja. Oleh karenanya kita harus tekan ini sedemikian rupa, masuk ke harga yang bisa ditoleransi,” katanya.