Cinta Laura Kiehl baru saja menyelesaikan misi kemanusiaan di Aceh bersama yayasannya, Act of Love, dan WWF. Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau langsung kondisi para korban bencana yang hingga kini masih bertahan di tenda-tenda darurat dengan fasilitas yang sangat memprihatinkan.
Hati Cinta merasa teriris saat melihat lingkungan pengungsian yang kumuh dan tidak layak huni, terutama saat cuaca buruk melanda. “Yang membuat aku sangat teramat sedih adalah, hujan sedikit aja daerah di mana korban-korban tinggal itu langsung penuh lumpur yang akhirnya mereka seret ke dalam tenda,” ungkap Cinta di Jakarta Selatan, Senin (2/3/2026).
Mirisnya, tenda sempit dan berlumpur tersebut harus difungsikan untuk segala jenis kegiatan harian warga. Cinta menjelaskan dengan nada prihatin, “Tenda ini tuh bukan hanya tempat tidur ya, tapi buat memasak, buat anak-anak belajar, buat beristirahat, semua aktivitas.”
Kondisi pendidikan pun tak kalah memilukan karena anak-anak harus belajar di lantai tanpa listrik maupun furnitur. “Anak-anak di situ belajar di lantai, tanpa pencahayaan yang baik. Guru-guru pun kesulitan karena banyak buku hanyut,” tambah Cinta, menyoroti keterbatasan fasilitas sekolah sementara di sana.
Meski begitu, keteguhan hati warga Aceh yang tetap bersyukur menjadi pelajaran berharga bagi Cinta. Sambil merencanakan rehabilitasi pada Juni mendatang, ia berpesan, “Untuk Aceh bisa kembali pulih butuh triliunan rupiah dan waktu bertahun-tahun. Kita nggak boleh berhenti membantu mereka.”