Kinerja Pemko Banda Aceh Tunjukkan Tren Positif di Bawah Kepemimpinan Walikota Illiza
Aceh

Kinerja Pemko Banda Aceh Tunjukkan Tren Positif di Bawah Kepemimpinan Walikota Illiza

Admin SA

Berdasarkan data yang terhimpun dalam “Jejak Digital Pemko Banda Aceh di Era Illiza”, kinerja Pemerintah Kota Banda Aceh sepanjang 1 Januari hingga 25 April 2026 menunjukkan ritme pemerintahan yang padat, terukur, dan konsisten. Dalam empat bulan pertama ini, arah kebijakan kota bergerak melalui tiga poros utama yang saling menguatkan: konsolidasi fiskal dan layanan dasar, penguatan nilai-nilai sosial-keagamaan, serta pembangunan city branding yang kolaboratif. Pola ini mencerminkan upaya sistematis dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan di tengah tantangan pelayanan publik yang dinamis.

Langkah awal tahun dibuka dengan pendekatan simbolik yang strategis untuk menjaga kondusivitas kota, termasuk kebijakan perayaan tahun baru yang terkendali. Secara bersamaan, Pemko Banda Aceh menunjukkan responsivitas sosial yang tinggi melalui aksi safari kemanusiaan ke berbagai wilayah terdampak bencana di seluruh Aceh, mulai dari Pidie Jaya hingga Bener Meriah, dengan penyaluran bantuan langsung yang menyentuh ratusan jiwa. Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah untuk hadir tidak hanya sebagai administrator, tetapi juga sebagai entitas yang memikul tanggung jawab sosial bagi masyarakat luas.

Memasuki pertengahan Januari hingga Februari, fokus pemerintahan bergeser pada penguatan fondasi layanan publik dan stabilitas fiskal. Keberhasilan mempertahankan kerja sama sister city dengan Higashimatsushima dan diraihnya UHC Award 2026 dengan cakupan jaminan kesehatan di atas 98 persen menjadi bukti nyata keberhasilan layanan dasar. Fase ini diperkuat dengan refleksi tahun pertama kepemimpinan yang menekankan pada penyelesaian kewajiban keuangan daerah, sembari menggerakkan ekonomi akar rumput melalui penyediaan los gratis bagi UMKM di Peukan Raya Ramadan dan digitalisasi transaksi via QRIS.

Memasuki Maret hingga April, intensitas program lapangan semakin terasa melalui penyaluran bantuan rumah layak huni dan penyelenggaraan pasar murah yang menyediakan ribuan paket sembako bersubsidi. Karakter kepemimpinan yang membumi dipertegas melalui program sosial-keagamaan yang menyentuh dimensi personal, seperti aplikasi ASN Mengaji, wisuda santri, hingga kegiatan belanja lebaran bersama anak yatim. Di sisi lain, peningkatan disiplin birokrasi dilakukan melalui penerapan pola kerja WFO-WFH dengan tingkat kehadiran ASN yang impresif, dibarengi dengan inisiatif inovatif seperti pelatihan AI bagi guru SD.

Puncak dari upaya pembangunan citra kota terlihat pada rangkaian agenda besar seperti perayaan HUT ke-821 Banda Aceh, forum APEKSI, dan City Expo yang berhasil memposisikan Banda Aceh di panggung nasional maupun internasional. Strategi branding ini semakin matang dengan penandatanganan kerja sama dengan ILO untuk pengembangan “Kota Parfum”, sebuah inisiatif yang dirancang untuk mengakselerasi ekonomi kreatif berbasis UMKM. Rentetan pencapaian ini ditutup dengan apresiasi National Governance Award 2026 sebagai Excellent City in Healthcare Access, yang membuktikan bahwa koordinasi antar-sektor telah membuahkan hasil yang diakui secara luas.

Namun, di balik capaian yang impresif, catatan rapor Ombudsman 2025 dengan nilai 61,98 atau kategori “Cukup” menjadi pengingat kritis bahwa kualitas layanan publik memerlukan transformasi yang lebih mendalam. Empat bulan pertama ini merupakan fondasi awal yang penting bagi arah kebijakan ke depan. Kini, tantangan terbesar bagi Pemko Banda Aceh adalah bagaimana menerjemahkan intensitas program yang padat tersebut menjadi dampak mutu layanan yang dirasakan langsung oleh warga, sekaligus memastikan bahwa ritme kerja yang sudah terbentuk dapat terus terjaga dalam jangka panjang demi mewujudkan kemajuan yang nyata bagi Banda Aceh.