Banda Aceh — Terminal Keudah dulu dikenal sebagai salah satu simpul transportasi penting di Banda Aceh, tempat angkutan kota labi-labi hilir mudik mengantar penumpang ke berbagai penjuru kota. Namun setelah operasional labi-labi meredup, kawasan ini ikut sepi dan bertahun-tahun terbengkalai.
Kini wajah kawasan seluas sekitar 11.700 meter persegi itu mulai berubah. Pemerintah Kota Banda Aceh telah melakukan pembersihan lahan (land clearing), dan untuk sementara area ini difungsikan sebagai ruang terbuka yang bisa dimanfaatkan masyarakat maupun untuk penyelenggaraan berbagai event.
Konsep bangunan yang ditawarkan setidaknya tujuh lantai, dengan bagian basement disiapkan sebagai area parkir kendaraan. Di atasnya, lantai dasar akan berfungsi sebagai terminal transit yang menjadi hub bagi Bus Trans Koetaradja maupun bus feeder. Di atas terminal transit itu, akan dibangun pusat perbelanjaan dan pusat niaga, sementara lantai-lantai paling atas akan dimanfaatkan sebagai hotel.
Dengan desain berjenjang seperti ini, tamu hotel maupun pengunjung pusat perbelanjaan bisa langsung mengakses transportasi umum dari dalam kawasan — sebuah konsep mixed-use development yang gagasannya disebut mirip dengan KL Sentral di Kuala Lumpur, Malaysia, yang juga memadukan terminal transportasi, pusat perbelanjaan, perkantoran, dan hotel dalam satu kompleks.
Sementara menunggu investor yang tepat, lahan ini akan dipagari untuk mengamankan aset pemerintah. Menurut Illiza, Banda Aceh selama ini masih kekurangan lokasi untuk penyelenggaraan berbagai kegiatan, sehingga kawasan ini bisa menjadi alternatif bagi instansi pemerintah maupun pihak swasta yang ingin menggelar event.
Kepala Dinas Perhubungan Banda Aceh, Muhammad Syaifuddin Ambia, menambahkan bahwa pembersihan dan pemagaran lahan ini juga bertujuan mengamankan aset pemerintah kota yang berada di bawah pengelolaan dinasnya, sembari terus menawarkan lahan tersebut kepada investor untuk dibangun sesuai konsep kawasan bisnis terpadu yang telah disiapkan.