Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 51 titik panas (hotspot) di Provinsi Aceh pada Minggu, 2 Agustus 2026. Peningkatan jumlah hotspot ini menjadi sinyal meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, Nabila, mengatakan seluruh titik panas terdeteksi pada periode 00.00-23.00 WIB menggunakan sensor MODIS pada satelit Terra, Aqua, Suomi NPP (SNPP), dan NOAA-20/VIIRS. Seluruh hotspot yang terpantau berada pada tingkat kepercayaan sedang.
Kabupaten Aceh Barat menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 36 titik, yang tersebar di Kecamatan Arongan Lambalek, Meureubo, Samatiga, Woyla Barat, Johan Pahlawan, dan Kaway XVI. Selain itu, Aceh Selatan mencatat 7 titik, Aceh Jaya 5 titik, dan Kota Lhokseumawe 3 titik panas.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama di wilayah dengan konsentrasi hotspot tinggi. Pemantauan dan penanganan dini dinilai penting agar kebakaran tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.