Mendagri Sebut Pemulihan Pascabencana di Aceh Butuh Waktu Lebih dari Setahun
Aceh

Mendagri Sebut Pemulihan Pascabencana di Aceh Butuh Waktu Lebih dari Setahun

Admin SA

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengakui proses pemulihan pascabencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra, termasuk Aceh, tidak dapat diselesaikan dalam waktu satu tahun. Luasnya wilayah terdampak serta kompleksitas kerusakan menjadi tantangan utama dalam upaya rehabilitasi.

Dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI, Jakarta, Rabu (5/8), Tito mengatakan pemerintah telah bekerja selama sekitar sembilan bulan sejak bencana terjadi. Namun, menurutnya, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sehingga pemulihan secara menyeluruh belum dapat dipastikan rampung dalam waktu dekat.

Ia menjelaskan, kondisi di lapangan sangat beragam. Di Aceh Utara misalnya, kawasan perkotaan terlihat tidak mengalami dampak yang signifikan, tetapi kerusakan di wilayah pedalaman jauh lebih kompleks. Sejumlah lokasi masih dipenuhi tumpukan kayu, rumah-rumah rusak berat, tiang listrik roboh, hingga bangunan sekolah yang tertimpa material.

Meski demikian, Tito menegaskan pemerintah terus berupaya mempercepat proses pemulihan. Ia menyebut seluruh rumah sakit yang terdampak kini telah kembali beroperasi.

Di sektor pendidikan, dari total 4.922 bangunan sekolah yang terdampak, sebanyak 4.834 sekolah telah kembali menjalankan kegiatan belajar mengajar di lokasi asal. Sementara itu, sebagian sekolah lainnya masih menggunakan fasilitas sementara, seperti gedung milik pemerintah maupun tenda darurat, karena bangunan sekolah sebelumnya mengalami kerusakan berat atau hanyut akibat bencana.

Menurut Tito, proses relokasi juga menghadapi kendala, terutama dalam penyediaan lahan yang layak untuk membangun kembali fasilitas umum maupun permukiman warga yang terdampak.