Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membuka kembali peluang pelayaran di Selat Hormuz mulai Selasa (10/3/2026). Namun, akses aman ini diberikan dengan syarat diplomatik yang sangat berat bagi negara-negara Arab maupun Eropa. IRGC secara tegas menyatakan bahwa kapal-kapal bisa melintas “jika duta besar Israel dan Amerika Serikat diusir dari negara mereka.”
Langkah ini diambil setelah Iran menutup jalur energi vital tersebut pasca-serangan militer AS dan Israel pada akhir Februari lalu. Penutupan jalur yang melayani 20% pasokan minyak mentah dunia ini telah memicu krisis energi global. Dampaknya, harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus 119 dolar AS per barel, level tertinggi sejak Juli 2022.
Selain pengusiran diplomat, Iran berencana memberlakukan “biaya keamanan” bagi kapal komersial milik AS, Israel, dan sekutunya yang melintas di Teluk Persia. Strategi ini dirancang untuk memberikan tekanan politik langsung terhadap pemerintahan Donald Trump agar segera menghentikan eskalasi serangan terhadap Teheran.
Seorang sumber internal Iran menegaskan bahwa mereka akan terus memanfaatkan posisi strategis ini sebagai senjata politik. Ia menyatakan, “Kami memegang kendali atas harga minyak dunia dan untuk waktu yang lama AS harus menunggu tindakan kami untuk mengendalikan harga. Harga energi sudah tidak stabil dan kami akan terus berjuang sampai Trump menyatakan kekalahan.”