Polemik menyelimuti pelaksanaan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Kabupaten Aceh Barat Daya setelah beredarnya Surat Keputusan (SK) pemenang sebelum perlombaan dimulai. SK Nomor: 094/T.2/113/2026 yang dikeluarkan Kepala Cabang Dinas Pendidikan ini memicu protes keras karena dianggap mencederai sportivitas. “SK pemenang sudah keluar, sementara lomba belum dilaksanakan. Ini sangat disayangkan karena bisa membunuh mental anak-anak yang sudah berlatih selama satu bulan,” kata Hijrah Sriwahyuni, pelatih FLS2N, kepada AJNN, Rabu, 6 Mei 2026.
Kejanggalan semakin menguat saat panitia memutuskan menggelar lomba secara mendadak pada hari yang sama pukul 14.00 WIB setelah SK tersebut bocor. Hijrah menilai proses ini tidak transparan dan meragukan legitimasi hasil kompetisi yang dirasa hanya sekadar prosedur administratif. “Apakah lomba ini benar-benar penilaian atau hanya formalitas? Ini yang menjadi pertanyaan kami,” ujarnya mempertanyakan mekanisme seleksi tersebut.
Selain masalah transparansi, aspek teknis dan ketersediaan anggaran juga menjadi sorotan. Kegiatan tersebut dikabarkan tidak memiliki dukungan dana yang memadai, namun panitia tidak membuka ruang koordinasi dengan pihak sekolah. Hijrah menilai jika anggaran menjadi kendala, seharusnya ada kolaborasi yang dilakukan. “Kalau memang tidak ada anggaran, bisa dicarikan solusi bersama MKKS. Ini bukan pertama kali terjadi, dan sebelumnya bisa diselesaikan dengan kolaborasi,” jelasnya.
Proses penunjukan peserta dari sekolah tertentu tanpa kompetisi terbuka juga dianggap melanggar prinsip keadilan bagi siswa. Hijrah menekankan bahwa esensi dari ajang ini adalah memberikan ruang kompetisi yang sehat bagi para pelajar. “Kalaupun kalah, anak-anak harus kalah dalam perlombaan, bukan karena sudah ditentukan sebelumnya siapa pemenangnya,” tegasnya menyikapi ketidakadilan dalam proses seleksi tersebut.
Ke depannya, integritas dalam penyelenggaraan FLS2N diharapkan dapat diperbaiki karena pemenang akan mewakili daerah ke jenjang yang lebih tinggi. Hingga saat ini, pihak Cabang Dinas Pendidikan setempat belum memberikan keterangan resmi.
“FLS2N ini ajang bergengsi. Dari kabupaten ke provinsi, lalu ke tingkat nasional. Ini bukan kegiatan yang bisa dilaksanakan secara sembarangan,” pungkas Hijrah