Perayaan HUT ke-821 Kota Banda Aceh melalui rangkaian “Banda Aceh Experience” sukses memberikan dampak ekonomi signifikan. Total perputaran uang selama kegiatan tersebut mencapai Rp7,62 miliar, yang terdiri dari dampak langsung sebesar Rp5,08 miliar dan dampak tidak langsung sebesar Rp2,54 miliar.
Akademisi ekonomi dari Universitas Syiah Kuala, Muhammad Ilhamsyah Siregar, menilai capaian ini membuktikan bahwa event daerah mampu menjadi instrumen ekonomi yang efektif. “Event seperti ini bukan hanya ruang hiburan, tetapi juga instrumen ekonomi. Ketika masyarakat datang, berbelanja, menginap, menggunakan transportasi, dan menikmati produk lokal, maka uang berputar di banyak sektor,” ujarnya.
Ilhamsyah menjelaskan bahwa dampak langsung berasal dari belanja penyelenggara, pendapatan sponsor, serta transaksi dari pelaku UMKM. Sementara itu, dampak tidak langsung dihitung dari efek berantai terhadap sektor lain, seperti meningkatnya okupansi hotel, penggunaan transportasi, hingga kebutuhan rantai pasok untuk usaha kuliner dan jasa pendukung lainnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mengubah perspektif terhadap perayaan hari jadi kota. “Ini menunjukkan bahwa perayaan hari jadi kota tidak boleh dilihat sebagai biaya semata, tetapi sebagai investasi ekonomi dan sosial yang mampu mendorong aktivitas usaha masyarakat,” tambahnya.
Momentum ini pun berhasil memperkuat posisi Banda Aceh dalam mempromosikan UMKM lokal serta meningkatkan citra kota yang kreatif dan ramah investasi. Dengan manfaat ekonomi yang nyata, Banda Aceh Experience terbukti bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan investasi strategis bagi masyarakat.